VORTEX SMART – Pemerintah Indonesia bersiap menerbitkan Panda Bond perdana di pasar keuangan China sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan negara. Melalui instrumen obligasi berdenominasi yuan tersebut, pemerintah menargetkan penghimpunan dana sebesar 1 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp17,9 triliun, dengan peluang penambahan nilai emisi apabila kondisi pasar mendukung.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penerbitan Panda Bond merupakan langkah strategis untuk memperluas basis investor internasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan yang didominasi mata uang dolar AS.
Menurutnya, pasar keuangan China memiliki karakteristik investor yang berbeda dibandingkan pasar obligasi internasional. Investor di China lebih mengandalkan lembaga pemeringkat domestik dibandingkan lembaga pemeringkat global seperti S&P Global Ratings maupun Moody’s dalam mengambil keputusan investasi.
Panda Bond merupakan obligasi berdenominasi yuan yang diterbitkan oleh entitas asing di pasar domestik China. Instrumen ini telah dimanfaatkan oleh sejumlah negara dan lembaga internasional sebagai alternatif pembiayaan sekaligus memperluas akses ke pasar modal terbesar kedua di dunia.
Penerbitan obligasi tersebut juga memperoleh dukungan dari Pemerintah China dan People’s Bank of China (PBOC). Dalam kunjungannya ke Beijing pada pertengahan Juni 2026, Menteri Keuangan melakukan serangkaian pertemuan dengan Kementerian Keuangan China, PBOC, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), serta berbagai investor institusi besar.
Hasil pembahasan menunjukkan adanya komitmen untuk mempercepat proses perizinan setelah dokumen resmi pengajuan diterima oleh otoritas China.
Semula penerbitan Panda Bond dijadwalkan berlangsung pada awal Juli 2026. Namun jadwal tersebut diundur hingga akhir Juli setelah sejumlah investor institusi besar di China meminta tambahan waktu untuk menyelesaikan proses persetujuan internal.
Beberapa institusi keuangan besar, termasuk China Investment Corporation, Agricultural Bank of China, dan Export-Import Bank of China, dilaporkan menunjukkan minat terhadap penerbitan obligasi tersebut. Bahkan, salah satu bank milik negara China disebut menyatakan kesiapan menjadi investor sekaligus penjamin emisi (underwriter).
Selain memperluas sumber pembiayaan, penerbitan Panda Bond juga memanfaatkan skema Local Currency Transaction (LCT) yang telah disepakati antara Bank Indonesia dan People’s Bank of China. Melalui mekanisme tersebut, investor melakukan pembayaran menggunakan yuan, kemudian dana dikonversi menjadi rupiah melalui kerja sama kedua bank sentral.
Skema ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap transaksi berbasis dolar AS sekaligus membantu menekan tekanan terhadap nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global.
Langkah pemerintah menerbitkan Panda Bond dinilai sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan fiskal nasional. Dengan memperluas akses ke pasar obligasi internasional dan memperbesar basis investor, Indonesia berpeluang memperoleh sumber pendanaan jangka panjang yang lebih beragam, efisien, dan berkelanjutan.
Keberhasilan penerbitan Panda Bond juga diharapkan semakin mempererat kerja sama ekonomi dan keuangan antara Indonesia dan China, sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan nasional di tengah tantangan ekonomi global yang terus berkembang.
